I Love You myChild

Aku tidak tau ini disebut perjuangan atau cobaan, aku rasa bisa disebut sebagai keduanya…….

Hamil, jauh dari suami, jauh dari orang tua, jauh dari sanak saudara…. Hanya ditemani saudara sepupu aku yang dari kecil memang kami selalu bersama…. Dia kerja di sebuah perusahaan swasta bertaraf internasional di Jakarta…. Hanya berdua dan kami memiliki kegiatan masing-masing….

Awal kehamilan atau masa ngidam ku tidak terlalu sulit, tidak sesulit beberapa teman atau saudara atau orang lain yang memang mengalami ngidam yang jauh lebih parah dari aku…

Aku masih terhitung normal, sekalipun saat itu ada beberapa makanan yang biasanya aku suka dadakan tidak menyukainya, tapi masih ada beberapa jenis makanan yang bisa aku konsumsi tanpa harus keluar lagi (muntah). Rasa mual yang aku rasakan juga masih normal, cuma pagi dan sore saja…

Intinya masa ngidam bisa aku lewati. Tapi lewat mas ngidam stamina ku drop, saat usia kandungan ku empat bulan ‘demam tifus’ nyamperin. 1 minggu aku harus bed-rest….

Lewat bulan ke lima dan ke enam, masuk bulan ke tujuh ‘demam tifus’ nyampein lagi… Terpaksa aku harus bed-rest lagi, kali ini lebih lama. 2 minggu aku harus bed-rest karena itu….

Berat badan ku turun cukup banyak…. Aku ‘dinasehatin’ oleh banyak orang untuk jaga makanan, jangan makan seenak lidah sendiri saja. Padahal selama hamil, setiap aku mau mengkonsumsi makanan apapun selalu mempertimbangkan efek dan gizi buat calon bayi ku…. Tidak asal makan, aku juga tidak mengerti kenapa sampai bisa dua kali aku terserang ‘demam tifus’ selama aku hamil… Aku mencoba mengingat apa yang salah dengan makanan yang aku konsumsi, aku coba bandingkan dengan makanan yang dikonsumsi oleh sepupuku dan teman-teman kantor ku. Bisa dibilang aku lebih ‘safety’ dalam memilih makanan selama hamil. Jauh dari menu yang pedas, yang asam pun jarang aku konsumsi. Tapi entah mengapa aku lebih rentan sakit dan drop stamina ku.

Aku terus berfikir dan lebih menjaga makanan yang aku konsumsi. Tapi setelah aku ingat-ingat, mungkin yang menyebabkan aku rentan sakit karena memang ‘bawaan’ janin dan belum terbiasa dengan makanan yang dijual ‘jadi’ / matang. Selama di kota asalku, memang aku selalu makan menu masakan rumah. Tidak jarang aku bawa ‘bekal’ makanan dari rumah, selain memang rasanya lebih enak jaminan kebersihan nya pun pasti…. Mungkin itu yang menyebabkan ‘demam tifus’ senang hinggap pada tubuhku selama aku hamil…

Tidak usai sampai disitu aku harus berjuang untuk tetap menjaga kondisi calon bayiku. Usia kandungan ku masuk bulan ke delapan, aku merasa sakit ‘seperti kram’ saat aku menstruasi, akhirnya aku harus kontrol ke bidan. Penjelasan bidan bahwa aku mengalami kontraksi, tapi untung masih bisa dipertahankan tidak sampai keluar flek. Saat diperiksa keadaan janinku, bidan mengatakan kalau berat badan janinku masih jauh dibawah normal. Aku harus bisa menaikkan berat badanku sebanyak 5 kg lagi dalam waktu 1 bulan. Sangat sulit, apalagi tinggal dikota besar seperti Jakarta ini, kalaupun porsi makan sudah aku tambah tapi sepertinya makanan yang aku makan habis untuk dikeluarkan lagi untuk kegiatan ku selama bekerja. Dari kegiatan kerja di kantor, lelah dijalan, mengerjakan pekerjaan rumah (karena kami ngontrak sebuah rumah, bukan kos/kamar). Jadi selama 3 minggu aku masih belum bisa menaikkan berat badan yang seharusnya sesuai petunjuk bidan.

Waktu ku semakin pendek, belakangan aku sering tidak bisa tidur saat malam hari… Sekalipun siang ahari aku bisa melakukan kegiatan seperti biasanya, becanda dengan teman-teman, dan sebagainya… Tapi saat malam hari, tidak jarang aku menangis sendiri memikirkan calon bayiku…. Kekhawatiran ku akan kelahiran nya nanti,… Bagaimana kalau sampai dia lahir dengan berat badan yang masih kurang? Bagaimana kalau sampai aku tidak bisa mengurusnya dengan kondisi seperti itu? Bagaimana kalau sampai aku tidak bisa mempertahankan dia? Pernah sekali aku utarakan kekhawatiranku kepada suami ku, jawban dia memang sangat menyejukkan sebenarnya ‘Jangan terlalu khawatir, kita usahakan semaksimal mungkin dan berdo’a. Hasil akhirnya, kita serahkan kepada Allah SWT.’

Memang benar apa yang dia katakan,  tapi jujur di hatiku yang paling dalam. Aku sangat tidak siap dengan kemungkinan terburuk yang sempat aku fikirkan…

Mungkin sebagian orang berfikir bahwa ‘mungkin aku memang makan makanan hanya disesuaikan dengan lidah ku saja’. Tapi mungkin ada beberapa orang yang lebih faham bahwa mungkin makanan yang aku makan masih belum bisa untuk disupply maksimum ke calon bayiku, karena memang kegiatanku juga lumayan banyak sehingga makanan yang aku makan hanya cukup untuk mengganti energi yang aku keluarkan.

Apapun yang orang fikirkan, tapi dari sejak aku mengetahui aku hamil sampai dengan hari ini. Aku sangat menyayangi calon bayiku…. Tidak bisa aku bayangkan kalau sampai aku harus kehilanganya,….

Yang sering aku bayangkan, saat dia lahir sempurna…. Aku bisa membelai pipinya, membelai kepala kecilnya, bermain dengan jari mungilnya, menggelitik kaki mungilnya…. Lalu apakah aku harus membayangkan harus kehilangannya,… Rasanya tidak bisa,….

Aku mencintai calon bayiku, ya Allah beri mukjizat mu agar bayiku bisa lahir dengan berat badan normal. Dan berilah kami kepercayaan untuk bisa merawat dan mendidiknya,… Amiin…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.